"Soal toleransi dan perdamaian, silahkan baca al Quran surah ar Ruum, surah Yunus, surah Maryam dan lainnya, termasuk sejarah Nabi Muhammad saw dan Khulafaur Rasyidun. Karena itu tatanan Islam di Indonesia yang sudah mapan jangan dirusak dengan radikalisme teologi," lanjut Kang Said.
Kiai Said menjelaskan bahwa spirit toleransi dan perdamaian telah menjadi identitas Islam Indonesia termasuk kelompok lain di bumi Nusantara.
"Para dai dari Arab kuno telah menyebarkan Islam di Indonesia. Cina kuno berkontribusi atas kemunculan Majapahit. Sumpah Palapa era Majapahit telah menginspirasi Sumpah Pemuda. Dan saat ini kita telah menikmati kemerdekaan sejak 1945. Karena itu bukan Indonesia tanpa Cina, Hindu, Buddha, Arab.
Sementara itu Ketua LTN PBNU, Sulthan Fatoni, dalam sambutannya mengatakan ide Bedah Buku "Gusdur-Ikeda" merupakan permintaan Ketua Umum PBNU sebagai bentuk penghormatan terhadap Gus Dur dan Daisaku Ikeda serta upaya memperkuat nilai-nilai universal.
"Meski kecil, kami berharap acara ini dapat memberikan kontribusi terhadap proses perdamaian dan toleransi kehidupan beragama di Indonesia. Terima kasih kepada Sokka Gakai Infonesia, Wahid Institute dan pihak Gramedia atas sinerginya selama ini."
Narasumber yang hadir dalam acara tersebut, Ketua Umum PBNU KH. Said Aqil Siroj (Keynoote Speech), Peter Nurhan (Ketua Umum Sokka Gakai Indonesia), Romo Mudji Sutrisno (Rohaniwan), Abdul Mun'im DZ (intelektual muslim), dan Yenny Wahid (Direktur Wahid Institute).(nuo)
0 komentar
Posting Komentar